Cerita Ngentot Sepupu: Menikmati Vagina Kak Rini (II)

Koleksi cerita ngentot dengan sepupu sendiri

Cerita Ngentot Sepupu
Cerita Ngentot Sepupu

Cerita ngentot sepupu ini merupakan bagian kedua. Untuk cerita pertamanya bisa kamu baca DISINI.

Cerita Ngentot Sepupu – Menikmati Vagina Kak Rini (Bagian II)

Setelah kejadian malam itu akhirnya aku dan kak Rini sering ‘bercinta’..
Pada mulanya kak Rini belum mau aku memasukkan penisku ke vaginanya karena takut kalau-kalau dia hamil saat suaminya ada di luar negeri.

Tapi akibat sudah terbiasa merasakan langsung dan kapan saja jika ada kesempatan.. pada suatukali yang menjadi puncak obsesiku serta awal perselingkuhan kami benar-benar terjadi.
Kami bercinta dengan penetrasi penisku ke vagina kak Rini.

Ceritanya begini: Suatu malam.. kira-kira 2 bulan setelah kejadian ‘malam pertama’ kami.
Aku kembali menemaninya nonton TV di malam berhujan saat mas Tanto masih tugas di Filipina.
Malam itu kak Rini seksi sekali.. dia memakai kaos ketat warna putih dan celana pendek warna krem.
Aku sebenernya sudah sering melihat dia berpakaian seperti ini sebelumnya.. tapi entah kenapa aku merasa berbeda kali ini.
Lebih memancing nafsuku.. menguji imanku.

Setelah menaruh minuman di meja.. kak Rini lalu duduk di karpet tebal di depan TV.. bersandar pada sofa panjang yang aku duduki.
Kaki-kaki mulusnya diluruskan.. kaki kanan menimpa kaki kiri.. siku tangan kanannya bertelekan di bantalan sofa.
Kak Rini mengambil remote control.. lalu memainkan channel berpindah-pindah.
Aku cuma tersenyum memandang ke arah kak Rini yang kutebak tengah ‘kepingin’ alias horny.. akibat lama tak tersentuh mas Tanto.

Sebenernya aku sedikit kecewa dia pilih duduk di situ.. tapi pikiran itu segera sirna karena aku sibuk memperhatikan paha putihnya yang terpampang lebar karena celananya tertarik ke atas saat dia duduk. Ditambah dari kaus tipisnya.. aku dapat melihat bayangan bra yang dikenakannya.
Penisku terasa mulai menegang karena memandang wanita minim pakaian ini.
Tapi sayang kak Rini sepertinya canggung sekali malam ini.

Aku mulai menggodanya dengan menanyakan kabar mas Tanto.
“Hm.. eh.. kak.. apa kabar mas Tanto..?”
“Masih sibuk.. Rick. Tadi dia baru saja nelpon.. kok..” ujar kak Rini sambil tetap dengan kegiatannya memencet-mencet remote TV.
“Oo.. dingin.. dong..” selorohku lagi.
“Ah.. nggak tuh.. Kakak bisa mandi air hangat.. tauk..”
Katanya pura-pura tak mengerti ke mana arah pembicaraan yang agak menyerempet itu.

Aku merasa dia langsung membelokkan arah pembicaraan ke hal yang lain.
Wah gawat nih.. pikirku.. bisa gagal menuntaskan hasrat di malam berhujan seperti ini.. sepertinya kak Rini takut mendahului.
Hingga satu kak Rini cuma terdiam.. sepertinya dia kehabisan kata-kata untuk membicarakan yang lain. Kesempatan itu aku gunakan untuk duduk mendekatinya dengan sedikit diplomasi.

Dari atas sofa aku pegang kedua bahunya sambil aku elus perlahan.
“Kak..” kataku perlahan.
“Hmm.. kenapa.. Rick..?” sambut kak Rini sambil menghela nafas ringan.
Sambil menundukkan kepala aku bergeser lagi mengangkangi kak Rini yang kini ada di pangkuangku.. tapi dia berada di lantai.
Kudorong sedikit punggungnya.. kukecup ubun-ubunnya dari belakang atas.
Lalu kuselipkan kedua tanganku di kedua belah ketiak kak Rini yang kini mulus tanpa bulu itu.

“Naik ke sini.. Kak..” kataku lagi sambil menariknya setengah berdiri untuk duduk di sofa bersamaku.
Kak Rini mengikuti tarikan tanganku.. dengan sedikit erangan yang aku tak tau apa artinya.
Kak Rini duduk di sofa di hadapanku.. aku jadi seperti sedang memangkunya.
Perlahan aku cium bahunya.. kak Rini menunduk.
Aku tahu sebenarnya kak Rini mau.. cuma aku tak tau kenapa karena kali ini seperti ragu ketika aku menyentuhnya.

Kak Rini terduduk di antara selangkanganku yang kubuka lebar.. dia menyandarkan tubuhnya ke dadaku.. sambil aku memeluknya dari belakang.
Aku pegang kedua pipinya dari belakang.. aku angkat dan membuatnya menoleh ke kiri agar aku melihat wajahnya.
Saat wajah kami saling berhadapan aku melihat wajahnya seperti anak kecil yang sedang cemas.
Aku cium keningnya untuk menenangkannya.
Sepertinya cukup berhasil.. wajahnya sedikit menurun ketegangannya.

Aku cium keningnya sekali lagi kemudian aku kecup kedua pipinya.
Kak Rini cuma mendesah.. tetapi kedua tangannya mulai meremas pahaku kiri-kanan seperti menahan sesuatu sambil menutup mata.
Kami jadi seperti pasangan yang sedang dimabuk kasmaran.
Kak Rini bersikap seperti cemas kepadaku malam ini.. padahal aku sudah tak sabar lagi untuk menyetubuhinya kali ini.

Cerita Ngentot Sepupu | Sambil memeluknya dari belakang.. sesekali aku membelai rambutnya dan mencium tengkuknya yang putih bersih.
Kak Rini cuma mampu melenguh pelan sambil sekali-sekali menciumi tanganku yang memeluknya.
Perlahan aku mulai mengelus-elus payudaranya.. kak Rini mulai duduk makin gelisah.
Apalagi saat aku meremas payudaranya.. tubuhnya menegang dan melemas seirama dengan remasanku. Tangan kananku aku selipkan masuk ke dalam celana dalamnya.

Perlahan aku elus garis vaginanya.. terasa perlahan cairan vaginanya mulai membanjir.
Tangan kiriku masuk ke sebalik kaos yang dikenakannya.. langsung meremas payudaranya yang masih dibaluti bra tipis.
Sementara jari tengah tangan kananku mulai menusuk vaginanya.. terasa vaginanya berdenyut-denyut hebat.

Aku kecup bibirnya sekali.. belum ada reaksi. Aku kecup sekali lagi. Kali ini ada sedikit balasan.
Yang ketigakalinya aku cium bibirnya agak lama.
Kak Rini sudah mulai panas.. dia membalas ciumanku yang berangsur liar.
Saat aku beranikan memasukkan lidahku ke mulutnya.. dia menyambut dengan liar.. bahkan membalas memasukkan lidahnya bergantian.

Saat ciumanku semakin liar.. tak lupa tanganku mulai berkerja.
Pertama-tama tanganku memegang pinggangnya yang masih kencang.. kemudian dari situ aku elus punggungnya.
Setelah itu aku mengelus perutnya.. terasa perutnya rata tanpa lemak.
“Uugghhh.. Rickk..” erangan kak Rini makin kencang.

Elusanku aku turunkan ke pinggulnya.
Tangan kananku terus mengikuti garis celana dalamnya.. sampai pada paha luar dan mengelus hingga meremasnya..
Sementara tangan kiri kususupkan masuk dari bagian pinggang karet celana dalamnya.. dan terus merambah ke paha dalam.. berlanjut mengelus pantat.. kemudian aku remas-remas pantatnya.

Kak Rini menggerinjal halus.
“Uughh.. ehhmm.. ooh.. Rick melenguh kecil saat aku meremas pantatnya.
Aku meremas payudaranya.. walaupun masih dari luar kaos.
Tapi karena kaosnya tipis dan Branya adalah model bra yang tipis tanpa kawat.. aku dengan mudah meremas-remas kedua payudara yang telah sering aku nikmati tersebut.

Kali ini kak Rini melenguh agak keras walaupun tidak melepas ciumanku.
Aku loloskan tanganku ke dalam kaosnya mencoba melepas kait branya dari belakang.
Tapi kak Rini sepertinya telah terbebas dari rasa cemasnya.. bertindak lebih.. dia membuka kaos sekaligus branya.

Melihat dia membuka kaos.. aku ikut membuka kaosku.
Sementara penisku yang telah keras.. kutekan ke belahan pantatnya.
Sambil aku membuka kaos.. kak Rini menata bantal sofa yang ukurannya besar di ujung sofa kemudian dia bersandar di situ dengan pasrah.

Selesai membuka kaos.. aku posisikan tubuhku di sebelah luar sofa.. aku kembali menciumnya..
Kali ini sambil meremas-remas payudaranya yang memang masih sangat kenyal itu.
Sekali-sekali aku cium pipi dan lehernya. Juga kadang-kadang kujilat lehernya.. hingga membuat dia bergetar beberapa saat.

Ciuman aku turunkan ke arah payudara kanannya.
Perlahan-lahan aku kecup sekitar payudaranya tapi aku hindarkan pentilnya.

Kemudian aku jilat memutar mengecil hingga akhirnya sampai ke pentil.
Aku hisap sesaat kemudian aku pindah ke payudara kiri untuk memperlakukan hal yang sama.
Sepertinya kak Rini mulai tidak sabar.. kemudian dia menarik tanganku dan menekan telapakku ke arah payudaranya yang bebas.
“Engghhh.. eksplor lagi yang ini.. Rick..” erang kak Rini.

Aku mengerti.. kemudian aku remas-remas perlahan payudaranya sambil kadang-kadang memutar-mutar pentilnya.
Kemudian aku mencium bibirnya perlahan. Ciuman aku turunkan ke lehernya.. sesekali aku jilat lehernya. Ciuman kemudian aku turunkan kembali ke payudaranya.

Di situ aku menyedot pentil dan meremas-remas payudaranya.
Sesekali pentilnya aku gigit kecil untuk memberinya sensasi.
“Duuhh.. Erickkk.. please..” rintihan kak Rini terdengar ragu.
Tak kupedulikan erang serupa keluhannya. Aku menyusupkan tanganku ke dalam celana dalamnya.
Langsung terasa olehku lipatan vagina yang diselimuti bulu-bulu halus.. sudah sangat basah di sana.

Ciumanku turun lagi ke perutnya yang rata tersebut.
Di situ aku baru sadar.. ternyata pinggul Kak Rini memang sangat bagus.
Aku cium pinggulnya kemudian paha dalamnya. Aku sengaja melewatkan vaginanya untuk sasaran akhir. Dari pahanya aku cium betisnya sampai aku cium ujung kakinya.

Selanjutnya gerakan aku balik.. aku cium betisnya.. kemudian aku cium pahanya.. selanjutnya dengan perlahan aku kecup vaginanya.
“Kamu mau ngapain..?” Tanyanya tegang.. tapi aku terus saja mencoba menguak pahanya dengan kedua tanganku lalu mulai menjilati vaginanya yang ternyata sudah mulai basah oleh cairan vaginanya.
“Jangan lagi ahh.. kan bau tuh.. sshh..” Protesnya sambil mendesah menahan nikmat.
Aku tatap wajah kak Rini dari antara selangkangannya.. wajahnya terlihat tegang seperti menunggu hal selanjutnya yang aku kerjakan.
Kemudian aku kecup vagina itu sekali lagi.

Dengan menggunakan jariku.. aku sibak bulu halus jembutnya.. sehingga vaginanya terlihat jelas..
Perlahan aku jilat bibir vagina kiri dan kanannya perlahan.
“Auugghhh.. Erricckkk..!” rintihan kak Rini kali ini penuh ketegangan.

Selanjutnya dengan gerakan pasti jilatan aku arahkan ke klitorisnya.
Klitorisnya tidak terlalu besar tapi cukup mudah untuk dijilat kemudian aku isap perlahan.
Serangan aku tingkatkan. Perlahan kembali aku elus-elus dan sesekali kuremas paha dalamnya.
Kak Rini mulai kelojotan menerima seranganku.
Kak Rini belum terbuka celananya.. memang tak terburu-buru.

Cerita Ngentot Sepupu | Namun beberapa saat berselang rupanya ia mulai tidak sabar.. lantas membalikkan badannya.. lantas menciumku dengan ganas.. sedangkan tangannya menyerbu celanaku.. berusaha untuk mengeluarkan penisku..
Aku turunkan celana dan segera melorot lepas dari pinggangku.. sehingga kak Rini bisa menarik penisku keluar dan mulai mengelus-elusnya.
Aku juga langsung meloloskan celana pendeknya.

Sekarang kami tinggal menyisakan celana dalamdi tubuh masing-masing. Belum sama-sama telanjang.
Lalu kubisikkan di telinga kak Rini di sela-sela lumatan pada payudaranya.
“Kalau kakak berdandan seksi seperti ini untuk aku pasti aku tak akan pergi tidur dan membiarkan kakak sendirian..”
“Ah.. Erick.. kamu hanya coba menghibur aku.. kan..?” desah kak Rini makin tak beraturan.

Kak Rini menyandarkan kepalanya di bahuku sambil mendesah seperti berbisik.
“Sepertinya kita jadi gila malam ini.. Rick.. oohh..”
“Ehhmm.. uuhh.. tak apalah.. kak.. aku sudah lama kepingin seperti ini..” desisku.

Lenganku bergerak menyusup dari ketiak dan mendekap bahu kak Rini lalu merengkuhnya lebih merapat lagi.
“Aku tak tahu lagi bagaimana rasaku saat ini.. uugghh.. tapi ini terasa sangat indah bagiku..”
Erang kak Rini makin mengeratkan pelukannya.

Tangannya bergerak ke bawah menyusup ke CD-ku dan singgah pada penisku.
Tangan kiriku bergerak ke buah dada kak Rini dan meremasnya dengan lembut hingga membuat putingnya mencuat menusuk lembut telapak tanganku.
Terus kumainkan kedua daging kenyal tersebut bergantian.. sambil mulutku memagut mulut kak Rini hingga terengah bersama.
Aku seperti mimpi malam ini dalam keadaan seperti ini dengan kak Rini, sepupuku tersayang.

Tangan kananku merambat ke perut dan menuju vaginanya yang ternyata sudah terasa sangat basah oleh gairah.
Aku bisa mendengar lenguhan lirih kak Rini saat menciumnya.
Kak Rini mulai menggerakkan pinggulnya.. dan lengannya bergerak meraih tubuhku kian erat.. lalu memeluk kepalaku agar kedua bibir kami melumat semakin merapat.
Aku berharap kak Rini tak akan menolakku malam ini.. dan mungkin saat ini adalah kesempatan terbaik untuk mewujudkan impianku selama ini.

Sebelah tanganku masih bergerak turun ke bawah.. menelusuri kulit perut kak Rini yang lembut untuk menyentuh tepian vagina berbulu halusnya.
Kedua pahanya yang masih merapat erat menahan gerakan jemariku.
Jemariku terus menggerayangi perut bagian bawahnya disertai lidahku yang menari dalam mulut kak Rini.

Akhirnya kedua paha kak Rini melemas dan mulai bergerak membuka.
Jemariku langsung bergerak turun ke arah kelentitnya.
Begitu kelentitnya tersentuh jemariku.. kedua paha kak Rini membuka semakin lebar.

Blass.. kak Rini memberikan ruang seutuhnya padaku untuk berbuat sekehendak hati terhadap daerah paling rahasia dari tubuhnya itu.
Yeaahh..!! teriakku dalam hati. Langsung saja jemariku melesak masuk ke dalam.

Vagina kak Rini menjadi teramat sangat basah. Dia sedang berada dalam lingkaran perasaan yang membuat nya kesulitan untuk menahan gejolak dari dirinya. Sementara itu.. aku yang sedang mengeksplorasi tubuhnya semakin tak karuan pingin segera menyatukan tubuh.
Nafasnya kudengar semakin memburu cepat.. saat dia merasa tubuhnya makin tak dapat dikontrolnya untuk menerima segala rangsanganku.

Kak Rini rebah dengan kedua belah paha dengan pelan makin terpentang lebar.. saat jemariku bergerak keluar-masuk di vaginanya.
Kini dia berada di perbatasan dari puncak kenikmatannya saat dengan tiba-tiba aku menghentikan aksiku.
Kedua matanya yang semula terpejam rapat langsung terbuka menatap.. begitu aku berhenti.

Aku sedang menarik celana dalam kak Rini.. membuka pakaian terakhir yang menutupi tubuhnya.
Batang penisku mengacung dengan tegak dan keras.. saat aku setengah berjongkok menurunkan CD-nya ke bawah.
Kak Rini melenguh pendek sambil sedikit mengangkat pantatnya.. seolah memberi jalan memudahkanku melepas benda terakhir yang menutupi tubuhnya itu.

Batang penisku yang telah memuai.. menegang dan membesar segera menyundul paha dalamnya.
“Stop.. Rick..! Apa yang kamu lakukan..?” panik kedengarannya.
“Aku akan membahagiakan kakak malam ini. Pikirkan saja betapa jauh lebih baiknya perasaan kita berdua setelah semua kejadian yang kita lakukan sebelumnya..”

“Jangan lakukan.. please. Aku takut.. dan kalau ini terjadi mungkin kita berdua tak akan bisa menghentikannya.. jangan sayang.. aku takut hamil selama Mas Tanto nggak ada di sini..” Katanya memohon pengertianku.
“Tapi kak.. aku dah nggak tahan lagi..” Protesku.
“Aku tak mungkin berhenti sekarang.. kak. Kakak tahu kan.. aku sudah sangat lama menginginkan itu.. kak..?”

Agak ragu kak Rini merapatkan kedua pahanya untuk mencegahku.
Aku kini cuma memandang kak Rini dengan tatapan sayu alias Mupeng.
Ayolah Kak.. buka untukku.. aku tahu kak Rini pasti menginginkan juga seperti aku..! Teriakku dalam hati.

Tanpa menunggu jawaban kak Rini.. aku melanjutkan aksiku merangsang kak Rini.
Kutundukkan kepala.. mencium sebuah puting payudara kak Rini lagi.. lalu berpindah ke mulutnya.
Kak Rini dengan setengah ragu membuka mulut lagi untukku.. meski seperti terpaksa.
Aku menghentikan ciumanku.. lalu berbisik pada kak Rini.. “Bukalah untukku.. kak.. pease..!” mohonku dengan mesra.
Kak Rini terdiam.. matanya cuman menatapku.. tatapan lembut dan sendu.

“Kak.. Aku sudah sangat ingin merasakan vagina kakak benar-benar meremas erat penisku saat kumasuki.. please kak.. ya..?” rengekku seperti menghiba..
Tanpa menunggu jawaban kak Rini yang kulihat akan menjawab.. langsung saja kembali kulumat bibirnya. Aku tau.. sebenarnya kak Rini memang menginginkan batang penisku memasuki tubuhnya.
Cuman masalah waktu saja. Mungkin lantaran perang batinnya dan sudah terlalu lama kak Rini tidak disetubuhi sesuai dambaannya.
Saat ini ada seseorang yang ingin memuaskan dia seperti apa yang diinginkannya.

Perlahan sekali.. akhirnya kak Rini membuka pahanya.
Sebelah pahanya masih berada di atas sofa dan sebelahnya lagi ditariknya ke atas tubuhnya.
Ketika itu tanganku bergerak ke belakang ke bulatan bokongnya.. lalu mulai menggoyangkan seluruh tubuhku menggesek tubuh kak Rini yang bugil.. terutama pada bagian selangkangan di mana kepala penisku yang sedang tegang-tegangnya tengah menekan gundukan bukit indah vaginanya.

Aku segera menggerakkan pinggulku secara memutar.. sambil menggesek-gesekkan batang penisku di permukaan bibir vagina kak Rini sambil sesekali pula kutekan-tekan pada belahan vagina yang kian membasah licin.

Kak Rini ikut-ikutan menggelinjang kegelian.. beberapakali kepala penisku yang tegang salah sasaran memasuki belahan bibir vagina kak Rini.
Ya.. sebenarnya aku telah tak sabar untuk menembus liang vaginanya.
Lalu kuremaskan kedua tanganku yang sudah mendekap dua bongkahan pantat kak Rini.. sehingga pinggulnya terangkat.

Ketika itu juga Aku bergerak ke depan dan.. Slleeeepp.. bleshh..
“Ouugghhh..!!”
Kami mengerang hampir bersamaan ketika kepala penisku menyeruak membelah bibir vagina kak Rini yang selama ini begitu kudambakan.

Akhirnya.. batang penisku dengan sendirinya menemukan jalan masuknya ke liang nikmat.
Dengan perlahan dan penuh peraaan kudorong maju.

Kudengar kak Rini merintih dan mengerang.. dan aku tau bukannya erang kesakitan.. sambil mendekap erat tubuhku.
“Ouuggghhh.. Rick.. ugghh..!” erangnya seperti terlepas dari beban yang maha berat.
“Uhhh..oohh.. kakk.. nikmat banget.. kkaakkk..” erangku tak kalah penuh nikmat menimpali rintihan nikmat kak Rini.
Ahh.. betapa empuk vagina kak Rini kurasakan. Penisku seperti memasuki daging hangat selembut beludru.

“Sssshhhh..” kembali dia melenguh penuh nikmat.
Tak dapat kugambarkan dengan kata-kata.. betapa purna kenikmatan yang sedang kurasa saat ini.

Kak Rini akhirnya melingkarkan kedua pahanya pada pinggangku dan tumitnya menancap erat pada pantatku untuk menariknya masuk semakin dalam ke vaginanya.

Perlahan aku mulai mengisi vagina kak Rini yang kurasakan begitu sempit dan menjepit.
Nikmatnya melebihi apapun yang pernah kurasakan bercumbu dengan kak Rini selama ini.
Setiap kocokanku membawa kami berdua semakin tinggi dan bertambah tinggi.

Cerita Ngentot Sepupu | Tak menunggu lebih lama aku mulai menyentakkan penis kerasku seutuhnya hingga ke dasar vagina kak Rini.
Aku menghentak dengan sangat keras.. tapi mungkin itulah yang didambakan kak Rini selama ini.. siapa tau.. ya ga..?

Setiapkali Aku menarik keluar batang penisku.. kedua kaki menahannya seakan ingin segara melesakkannya ke dalam vaginanya kembali.
Terasa bibir vaginanya ikut terbenam setiapkali Penisku kuenjot masuk.
“Arghh.. oughh.. oohh.. Rick..” erangnya.

Maka terdengarlah bunyi ‘plak’ setiapkali aku menghujamkan penisku di liang vaginanya.
Bunyi itu berasal dari beradunya pangkal pahanya dengan pangkal pahaku.. karena kak Rini mengangkat pinggulnya setiapkali aku menggenjot penisku masuk.
“Erriiickk.. akkk.. u uddaaah mau.. uuughh..” erangnya lagi.
Aku malah sudah tak mampu lagi menjawab.. sebab makin nikmat kurasakan penisku diremas-remas vagina kak Rini ketika menghujamkan penisku.

Orgasme di dalam vagina kak Rini mulai tercapai.. terasa olehku cairan hangat menyembur dari dalam vagina kak Rini.
“Ohhh.. Uuughh.. hmm..”
Erangan kak Rini makin membuatku bersemangat menggenjot penisku di vaginanya yang telah membanjir.

Sebenarnya tak membutuhkan waktu yang lama bagi kami untuk meraih akhir.
Tetapi aku tak ingin mimpiku yang selama ini kuinginkan cepat berlalu.. jadi aku mencoba memberikan persetubuhan yang lembut namun cepat.. keras tetapi penuh perasaan.. meski agak sedikit kasar pada kak Riniku tersayang.

Lalu aku mulai kian gencar mengenjotkan penisku keluar-masuk vagina indah kak Rini.
Clebb.. clebb.. clebb.. clobb.. clobb.. cleebb..
Sesekali klitorisnya tergesek Penisku ketika aku mengenjotkan Penis memasuki liang vaginanya yang telah basah.
Kak Rini terengah-engah karena nikmatnya.
Aku pun juga mendesah setiapkali aku mendorong penis masuk ke belahan nikmat kak Rini itu..

“Ohh.. Kaakk.. ini ya namanya bersenggama..?” bisikku di telinga kak Rini.
Kak Rini tak menjawab.. hanya erangan penuh nikmat.. serta dekapannya yang kudengar dan kurasakan..
“Ouugg.. aahh.. ehhmm.. sshh.. Rickkk.. Ohh..” desahnya.

Vaginanya peret sekali.. terasa lagi empotannya..
“Eerrgghh.. oouhh.. enak banget.. Kakkk..” erangku di sela hujaman penisku di vagina kak Rini.
Tangannya menyusup ke punggungku.. lalu kaki kak Rini sambil terus mengenjotkan Penisku keluar-masuk vagina kak Rini.
Kak Rini terdiam sesaat hanya menerima kocokanku yang baru perlahan.

Tapi tiba-tiba kak Rini menjadi sangat liar.. tangannya menekan erat pantatku sambil menggoyangkan pinggulnya ke kanan-ke kiri dengan liar.. seakan kocokanku tidak cukup.
Wah.. begini deh kalo cewek dianggurin sama suaminya.. jadi super liar. Pikirku di tengah kocokan penisku di liang vaginanya.

Kak Rini berteriak-teriak penuh nikmat.. sambil terus memutar-mutar pinggulnya mengikuti irama kocokan penisku.
Tapi tiba-tiba tubuh kak Rini menegang sambil berteriak kencang.
“Oughhh.. aghhh..!” Serr… serr.. serrr.. serrr… Terasa cairan menyemprot dari dalam vaginanya.. dia orgasme hebat.

Tak lama kemudian badannya terasa sangat lemas.. dia memandangku dengan mata sayu dan senyum kecil.
Di vaginanya terasa sangat basah.. aku merasa cairan vaginanya sampai menetes keluar.
Kembali kukocok perlahan karena aku belum apa-apa.. tapi sepertinya orgasme kak Rini tadi begitu hebat.. sehingga dia tetap tergolek lemas sambil tersenyum kecil seperti di awang-awang.

Akhirnya aku hentikan kocokanku dan aku cabut penisku yang masih tegang perkasa dari vaginanya.. karena kak Rini terlihat semakin lemas dan terlihat menjadi mengantuk.
“Kak.. dilanjutin di kamar aja.. yuk..” ajakku.
Kak Rini cuma mengangguk.. “Tapi di kamarmu aja.. Rick.. ya..!?” desahnya lemas.

Mungkin kak Rini ngerasa ga nyaman ‘selingkuh di kamarnya’.
Hehehehe.. Biar ajalah.. kupikir. (bersambung)

Cerita ngentot sepupu ini masih akan berlanjut. Nantikan pada postingan-postingan berikutnya.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*