Cerita Pendek Dewasa: Kepenatan Akibat Tugas Akhir (II)

Koleksi Cerita Pendek Dewasa Terbaru 2018

Cerita Pendek Dewasa
Cerita Pendek Dewasa

Cerita pendek dewasa ini merupakan lanjutan kisah Feri dan tente Sinta, kali ini dijamin episodenya akan lebih greget. Oh ya, biar lebih nikmat sebaiknya kalian mengikuti bagian sebelumnya melalui link dibawah ini:

  1. Bagian I – Cerita Seks 2018: Pelepas Kepenatan Tugas Akhir
  2. Bagian II (di halaman ini)
  3. Bagian III (next time)

Cerita Pendek Dewasa – Kepenatan Akibat Tugas Akhir (Part II)

Kembali dengan kisah gue dengan tante Sinta yang terus berlanjut, kali ini lebih terasa gregetnya mau tau gimana saksikan aja.

kejadian hari itu ada jeda sehari gue nggak ada dirumah indi karena sesuai kesepakatan, gue, indi dan rere kami akan bertamasya dan berlibur walaupun laporan 2 cewek tersebut belum selesai, gue rere dan indi kami berlibur disalah satu rumah keluarga indi yang memang jauh dari rumah indi disana kami berlibur dengan senang dan semangat,

Cerita Pendek Dewasa | seperti ayah dan ibu tirinya (Tante Sinta) dikeluarga indi dari ayahnya ini kami diterima dengan baik. Ada om Rizal (45) adik om Riadi yang menyapa kami, kebetulan om Rizal ini hidup sendiri karena istri tercintanya sudah tiada, meski begitu sampai sekarang ia tak pernah kawin lagi, alasannya karena tak mau anaknya punya ibu tiri meski ibu tiri itu tak selamanya jahat, contoh saja Tante Sinta istri kakaknya yaitu om Riadi.

Ditempat om Rizal ini lebih kearah gunung, dan lebih sejuk dari tempatnya Indi, dan disinilah Indi biasanya bermain kala hatinya sedang gundah, ia menunjukan spot2 terbaik dimana terdapat banyak wisata alam seperti air terjun dan kolam alami disekitaran air terjun. Selain itu juga tepat dibawah kaki bukit terbentang sawah milik omnya yang biasa digunakan Indi bermain bersama sepupunya yang kini sudah beranjak SMA, kami tiba saat pagi sekitar pukul 8 sehingga masih sempat menikmati hari itu.

Indi kemudian mengajak gue dan Rere ke arah air terjun dimana disanalah tempat terindah dan terbaik, masih sangat asri meski medannya cukup terjal saat pagi seperti ini tak terlalu banyak aktifitas hanya segelintir orang saja yang mencari kayu bakar, dibawahnya sedikit lagi berkelok 2 belokan terdapat sebuah kolam entah alami atau buatan karena Disana sudah terdapat jamahan tangan manusia sehingga susunan batu bertambah tinggi padahal kalau di biarkan batu besarnya saja sudah membentuk kolam yang cukup luas kira2 berdiameter 10m dengan kedalaman mencapai 2 meter.

Disana gue Rere dan Indi bermain air layaknya anak kecil disela2 permainan kami ternyata ikut bergabung anak2 yang baru saja pulang dari sekolah mereka terlihat asik berenang di kolam yang luas tersebut, sama seperti Indi mereka lincah berenang kiri dan kanan gue memang tak jago renang tapi bisalah gue mengapung dan bergerak meski lamban tak seperti mereka.

Sadar kalau anak2 ini sudah pulang sekolah akhirnya kami terkejut juga waktu sudah berlalu cukup lama.. yah kami tiba sekitar pukul 8, hingga pukul 10 kami masih mengobrol dengan om Rizal dan setelah itu kami menuju air terjun yang berjarak 30 menit dari rumah om Rizal dengan berjalan kaki. Artinya sekarang sudah pukul 1 lebih dimana setelah bermain air selama 3 jam kami mulai kelaparan, akhirnya kami memutuskan menyudahi kesenangan kami dan pulang kerumahnya om Rizal.

Sesampainya Disana kami sudah disambut dengan makan siang yang dibuatkan om Rizal sendiri, oh yah om Rizal ini hanya tinggal bertiga dengan kedua anak kembarnya yang kata Indi sudah kelas 3 SMA dan sementara mengikuti ujian sehingga mereka baru tiba sore atau malam dari sekolahnya yang cukup jauh, memang itulah kendalanya karena om Rizal tak mau jauh dari anak2nya. Oke lanjut setelah makan siang sekitar pukul 2 lebih lagi santai2nya gue memandangi sawah terdengar suara berisik dari belakang rumah.

‘ehh kenapa emangnya’ kata gue melihat Indi dan Rere yang panik.

‘aduh ferr, kalung warisan ibu gue hilang fer, gue baru sadar pas habis makan tadi kayaknya jatuh pas renang tadi’ ucap Indi yang memang sangat hiper aktif saat berenang tadi entah berapa kali ia bergerak dari sisi kolam satu ke yang lain.
‘kok bisa, loe yakin ?’
‘yakin fer, malah si om pergi lagi gimana nih’ ucapnya sedikit kebingungan di kala kalung warisan ibunya harus lenyap.
‘udah jadi gini aja, loe sama Fery balik cari Disana sementara gue coba cari disini, kali aja ada disini, lagian laporan kita belum selesai gue musti ngetiknya lagi’
‘yaudah gitu aja ndi, kita ke kolam aja, nggak jauh pun’, lagian ini masih siang dan airnya jernih bakal mudah kalau ketemunya.
‘beneran ? okelah , re titip rumah yah, nanti kalau sepupu gue datang bilang aja loe teman gue, soalnya dia nggak tahu gue kesini om Rizal juga lagi ke penadah ngecek gabahnya yang kemarin’ ucap Indi sambil tergesa-gesa menuju kolam.

Sebenarnya gue rada malas juga sih tapi karena itu kalung warisan ibunya dan juga Indi yang sudah baik mau menampung dan membiayai kebutuhan gue akhirnya gue dengan rela membantunya. Disepanjang jalan Indi terlihat khawatir, langkah kami pun dipercepat, yang seharusnya tiba dalam 30 menit hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai, setengah dari waktunya. Saat sampai Disana sudah sepi tak seperti tadi suasananya juga hening meski suara binatang dan derasnya air terjun membuat ramai. Indi langsung melompat kedalam kolam saat tiba dengan tangkas ia berenang bagai ikan duyung mencari kesana kemari. Gue baru sadar Indi mengenakan baju putih dan celana jeans pendek , karena tadi dia dan Rere mengenakan baju hitam, saat berenang maka tubuh bagian dalam Indi bisa tertembus akibat baju yang ia kenakan menerawang, indie terlihat jelas mengenakan bra hitam kontras dengan kulit dan baju yang ia kenakan.

‘gimana ndi ? Ada ?’

‘nggak ada fer, aduh gimana yah diatas mungkin’ katanya menunjuk keatas dimana kami sempat bermain di air terjun atas sebelum ke arah kolam. Sebenarnya untuk menuju atas kami harus memutar lebih jauh lagi melewati rerimbunan pohon, tapi karena Indi begitu semangat dan tergesa ia langsung memotong lewat jalur sungai dimana ia sama sekali tak menghiraukan gue, untungnya gue masih sempat berpikir dan membuka baju gue dan meletakkannya dekat kolam sebelum terjun melawan arus menelusuri batu2 terjal ke arah air terjun.

‘ yaampunnn ndi kenapa nggak mutar aja’
‘lebih cepat fer’ ucapnya dengan lincah melompat antar batu satu dengan lainnya sementara gue kesusahan.
‘hahaha emang anak kota’ ejeknya.
‘sialan ini demi loe juga’
‘hehe, ia deh ayo’ ucapnya didepan gue, tau gini gue mutar aja basah lagi. Kata gue menggerutu dalam hati.

‘yeeeeeehhhhh…’ teriak dari atas gue mengalahkan derasnya suara air terjun menghantam batu.
‘kenapa ndi’
‘dapat fer’ ucapnya kegirangan.
‘ahh syukurlah’ kata gue yang sudah dekat dengan Indi.

‘akhirnya ehh’ gue baru saja sampai ketika Indi memeluk gue dengan girangnya tubuhnya yang basah menempel dengan tubuh gue.
‘makasih fer’ ucapnya lalu melepas pelukannya.
‘ nggak usah makasih orang loe juga yang dapat lagian gue dari tadi nggak bantu apa2’ kata gue yang memang benar kenyataannya seperti itu.
‘btw kok disini sepi yah ndi, anak2 yang tadi mana ?’
‘ia sepi udah pada balik, biasanya ramai kalau pagi sama siang menjelang sore udah pada balik semua’ kata Indi.
‘ehh fer sini deh, tadi gue lupa nunjukinnya’ kata Indi membawa gue di sela batu sedikit memanjat ke atas, terdapat 3 batu besar yang sangat dekat dengan air terjunnya.
(Mode teriak on)
‘ehh awas sakit kena airnya’ teriak gue karena memang air terjunnya begitu keras
‘ia fer sini cepat’ ajak Indi ke gue yang gue ikutijejaknya. Hingga benar2 gue sampai dekat air terjunnya sangat dekat karena cipratan air begitu terasa dan.
‘ini fer tempat gue kalau lagi suntuk, loe bisa liat kesana keliatankan, gue teriak apapun disini kalau lagi stress’

Memang tempatnya diatas bebatuan terdapat 3 batu dimana batu pertama yang menjadi pijakan kami luas untuk 4-5 orang cukup halus namun tak licin, kemudian 2 batu besar tepat didepan kami membentuk sedikit celah nah dari celah inilah bisa gue liat ke arah bawah Dimana baju gue tadi tergeletak dan jalan setapak menuju ke arah air terjun ini Sedangkan Air terjun tepat berada di belakang samping kanan gue dan Indi yang melihat kearah kolam.

‘aaaaaaaa ………..’ teriak Indi yang gue yakin kalah dari air terjun disampingnya.
‘ayo fer, teriak lepasin semuanya’ ucapnya yang membuat gue ikut berteriak kaya orang gila…
‘aaaaaaaaaa…. Uhukk..uhukkk’ gue batuk karena terlalu lama berteriak. Sementara Indi menertawai gue.
‘gimana fer, keren kan ?’
‘ ia ndi, Ayok balik udah dingin nih gue’
‘eh sabar dulu fer,’ kata Indi menahan lengan gue.

Dan gue terkejut setengah mati dan setengah kedinginan saat Indi mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

‘ehh ini dapat dari mana ?’ kata gue kaget dengan spontan.
‘gue bakalan bilang kalau loe juga jujur’ masih dengan mode.teriak yah.
‘jujur apaan ?’ ucap gue.
‘kemarin malam ngapain loe sama mama Sinta di kamar’ pertanyaan Indi membuat petir disiang bolong meski memang hujan tengah membasahi gue tapi hujan lokal air terjun.

‘itu…’ ucap gue dengan mode yang diam tak keras seperti tadi, gue rasa gue sudah ketahuan oleh Indi.
‘loe.ngeseks kan sama mama Sinta, ini buktinya’ sambil memegang obat
‘sabar ndi gue bisa jelasin ndi’ kata gue berteriak.

Gue seakan ingin berteriak lagi akibat stress yang melanda gue, lagian gue kira Tante Sinta udah nyembunyiin obat tersebut saat kemarin kami hampir kepergok, nyatanya obat tersebut terletak begitu saja.

‘gue tau ini gunanya buat apa,’ kata indie.
‘sabar ndi jangan marah’ kata gue yang tertangkap basah.. yah memang sakarang pun basah.
‘gue nggak marah fer.. cuman pengen tahu aja,. Fer., semalam gue kaget setengah mati pas lewat pintu loe liat loe sama mama Sinta lagi diranjang, dugaan gue ternyata benar nggak salah, lie yang punya obat ini ‘ katanya masih dengan mode teriak yang nggak bisa gue ukur antara marah atau bukan.
‘sory, ndi nanti gue jelasin tapi gue mohon pliss… Jangan sampe bokap loe tau’ kata gue dengan serius.
‘oke kalau itu mau loe fer, gue bakalan rahasiakan ini tapi fer gue minta sama loe apa yang mama Sinta dapat dari loe fer’ ucapnya meneriaki gue.
‘gue nggak dikasih duit apa2 ndi sumpah’ kata gue yang memang tak mendapat apa2 selain kenikmatan. (Mungkin salah mendengar gue)
‘bukan itu fer, ‘ sekarang Indi mendekat kearah gue. Sangat jelas ia berbisik ditelinga gue meski suara keras air.terjun menerjang.
‘ gue udah lama naksir loe fer, malah yang dapatin loe duluan mama tiri gue, gue pengen ngeseks sama loe ‘ sebuah ungkapan indi yang terkesan fulgar namun itulah yang gue dengar.

Cerita Pendek Dewasa | Gue tak menyangka Indi yang anaknya lumayan pendiam dan juga tak banyak bicara menyatakan sebuah kalimat berikut nada mesum ke gue, wajah Indi begitu polos tak meyakinkan gue dengan pernyataannya tapi jelas itulah yang gue dengar dari mulutnya..

Indi kemudian bergerak kearah gue yang masih terdiam ia mendorong gue hingga bersandar pada batu dibelakang gue tubuh Indi merapat kearah gue dan… Bibir ini berpangutan dengan bibir gue sementara kedua tangannya memeluk leher gue. Nampak Indi mengerti cara berciuman bibir gue dihisapnya bahkan lidahnya masuk membelit lidah gue yang mulai mengikuti irama permainannya sampai akhirnya gue sedikit menarik wajah gue.

‘kenapa fer’
‘ndi loe yakin ? Nggak nyesel, ngasih kehormatan loe ke gue, loe tau sendiri kelakuan gue sama mama tiri loe’ ucap gue padanya.
‘gue yakin fer, lagian gue udah nggak perawan lagi’ ucapnya yang membuat gue kaget karena selama ini citra Indi di kampus begitu sempurna.
‘serius ? ‘
‘serius fer, jadi loe nggak usah kuatir dengan kehormatan gue, lagian loe nggak nyadar apa gue tahu obat ini dari mana ?’ ucapnya yang membuat gue berpikir lumayan keras hingga sebuah jawaban menerka gue dapat.
‘tapi ndi loe yakin disini’
‘tenang aja fer, di sini sepi lagian kalau ada yang datang hanya lewat jalan situ, nggak ada jalan lain dan bisa di liat dari sini’ ucap indi yang begitu yakin dengan apa yang ia katakan.

Melihat gue yang seperti sedang berpikir Indi dengan inisiatifnya kembali memeluk gue dimana kedua tangannya melingkar di leher gue, mata gue dan Indi sempat beradu pandang sebelum akhirnya mata kami tak bisa lagi saling berkontak dan digantikan dengan bibir kami yang melakukan berkontak fisik, sampai dititik ini gue sudah tak lagi membuang kesempatan meski tahu Indi adalah teman pacar gue, pertemanan mereka terjalin di salah satu UKM di kampus kami, dimana mereka adalah seniornya.

Wanita yang gue sangka alim ini (meski tak mengenakan hijab) ternyata 180° berbanding terbalik, Indi sangat jago memainkan permainan nya. Yang kini sudah bergerilya di sekitaran selangkangan gue berusaha mencari si Joni, sementara gueulai.mengerayanhi tubuh Indi yang sedari tadi sudah basah akibat air terjun disampingnya kami, baju putih Indi gue singkat sembari memasukan tangan gue membuka kaitan branya yang akhirnya terbuka. Pangutan bibir kami sempat terlepas karena usaha kami berdua dimana Indi dengan serius mulai membuka kancing dan resleting celana jeans pendek gue sementara gue mulai mengeluarkan tangan gue menggenggam toket Indi yang begitu pas ditangan gue, yah Indi ini memang tak memiliki bodi yang semok seperti Tante Sinta namun wajah cantiknya dan kulit putihnya sudah cukup membuat lelaki berdecak kagum. Tinggi Indi emang hanya Sebibir gue saja cukup netral untuk wanita 22 tahun.

‘ fery… Entotin gue yah’ ucap Indi dengan nada pelan penuh birahi,

Entah mengapa setiap ucapan vulgarnya walau pelan terdengar jelas padahal sedari tadi kami berdua berteriak bak orang gila. Gue merespon permintaannya dengan membalikan badan kami. Indi gue posisikan membelakangi batu agar gue bisa memantau apabila ada orang di ujung jalan sana. Untungnya dari kejauhan tempat kami begitu kecil oleh celah yang dibuat kedua batu besar ini dan juga kabut akibat daerah air terjun disekitar kami. Dengan semangat 45 baju Indi gue buka setelah gue membuka celana berikut dalaman gue sehingga gue tampak bugul didepan Indi yang sudah toples gue buat.

Puting toket indie terlihat sudah menegang memang tak sebesar milik Tante Sinta tapi masih nikmat gue kenyot. Secara bergantian gue mulai mengenyot putingnya dimana tangan Indi terus mengocok dan meremas kontol gue. Puas dengan toket kecilnya gue lalu membuka celana pendek Indi berserta dengan celana dalamnya, tak gue sangka memek Indi bebas dari rambut2 halus alias botak nampaknya ia rajin mencukur rambut dimensinya ini membuat gue semakin bergairah. Gue lalu berjongkok didepan Indi, nampaknya Indi mengerti maksud gue, Indi membantu mengangkat kakinya yang ia letakan dibatu sebelahnya sembari gue membuka lebar selangkangannya, tampaklah memek Indi yang meski mulai berwarna kecoklatan dan kontras dengan kulit putihnya tapi nampak masih segar untuk dijilati.

‘mmhhh sssttt ahhhh’ mmhhh ‘ desah indi. kok bisa yah hal2 vulgar terdengar jelas, apa mungkin pendengaran gue hanya untuk yang beginian, ucap gue karena mendengar desahan Indi pada derasnya air terjun disampingnya kami.

Cerita Pendek Dewasa 2018 | Memek Indi gue jilati dengan nikmatnya, cairan cintanya gue hisap dan telan, yah mungkin pembaca bertanya kenapa gue sama Tante Sinta nggak pernah ngejilmek, jawabannya hanya satu Tante Sinta punya rambut kemaluannya yang lebat gue, pernah punya trauma dengan hal tersebut kala pertama kali mencoba jilmek mantan gue, orangnya lumayan hiper dan nggak bisa ngontrol, hampir aja gue mati sesak napas karena kepala gue diapit nggak diberinya ruang. Nggak lucu kan ada berita ‘ditemukan tewas seorang mahasiswa setelah berhubungan intim, diduga kehabisan napas saat beroperasi dibawah tubuh pacarnya, diapit hingga lemas’… Makanya gue nggak ngelakuin itu sama Tante Sinta yang terlihat lumayan hiper..

Indi mendesah nikmat saat memeknya gue kelonin, dimana hati2 gue nggak tinggal diam mengobrak-abrik mesinnya hingga rambut gue dijambaknya dan terdengar rintihan kenikmatannya yang begitu panjang…

‘ahhhhhhhhhhhhrrrrggggg’ erang Indi saat tubuhnya mengejang menandakan ia mencapai puncaknya.

Dengan sangat telaten gue menikmati cairan kenikmatan Indi yang teras nikmat di lidah gue. Baru setelah itu gue berdiri saling berhadapan dengan Indi yang bersandar lemas di bebatuan, tangan Indi nakal memainkan si Joni saat gue menunggunya pulih dari orgasmenya. Hingga akhirnya Indi sedikit menarik Joni dekat dengannya kembali ia membuka selangkanya kali ini dengan kaki satunya lagi sementara ia berpindah bersandar di bebatuan sebelahnya. Indi mengarahkan kepala Joni bermain dedepan bibir memeknya , gue manatap Indi yang sudah terbawa nafsu birahi.

‘ndi, nggak nyangka loe binal juga, gue kira dari angkatan kita loe yang paling alim’ bisik gue padanya sembari membiarkan Indi bermain dengan si Joni.
‘fer, masing2 orang kan punya rahasia, gue juga nggak nyangka loe bisa selingkuh dengan mama Sinta, gue kira loe cowok paling alim di kelas’ ucap Indi seperti menyindir gue. Tapi benar juga kita nggak bisa tau kepribadian seseorang tanpa melihatnya langsung dan merasakannya.

‘ ehh loe nggak mau nyepong gue dulu’ ucap gue berharap Indi mau menyelingkuhi si Joni.
‘kapan2 aja deh fer, biar cepat selesainya trus kita balik’
‘owhh jadi boleh nih ,’kapan2′ aja’ ucap gue yang dibalas cubitan Indi.
‘masukin fer’ Indi kembali memberi isyarat gue.
‘blessss’ kontol gue akhirnya masuk dalam memek Indi.
‘aahh’ desah kami berdua hampir bersamaan.
‘ndi, gue nggak pake kondom nih kalau telat nariknya gimna, habisnya meki loe nikmat banget ?’ ucap gue berusaha menggodanya.
‘bilang aja loe mau keluar didalam kan ? Boleh aja asal loe tanggung jawab kalo gue hamil’ ucap Indi seperti gayung bersambut.
‘kan ada obatnya’ ucap gue menggoda Indi yang masuk jebakan gue.
‘sialan loe, udah.. jangan banyak bicara lagi’ ucapnya yang mulai menggoyang pinggulnya..

Gue akhirnya berhasil mendapat persetujuan Indi, dimana gue mulai menggoyangkan pinggul gue sehingga kontol gue maju mundur dalam memeknya. Kalau dibandingkan dengan Tante Sinta emang punya indie lumayan rapet hanya saja sensasi bersama Tante Sinta begitu nikmat karena Tante Sinta tak pasif ia bergerak dan mengekpresikan keinginannya, sementara Indi menunggu sodokan2 gue. Tapi tetap saja kenikmatan memeknya juga legit, ditambah desah suaranya yang halus dan lembut tapi berselimut kenakalan dan kebijakannya.

‘ahhh.. ahhh.. mhhh sstt aaahh mhhht’ desah indi sambil memejamkan matanya dan meluk erat leher gue dengan mengantungkan kedua tangannya.
‘mhhhhh enak fer… Mmmhhjpptt’ ekspresi Indi saat membuka matanya dan bertatap pandang dengan gue dan diakhiri dengan pangutan bibir kami berdua.

Suatu pengalaman baru bagi gue dimana kali ini gue melakukan seks bukan diruangan tertutup melainkan diruangan terbuka yang meski awalnya dingin namun hangat oleh rintihan dan kenikmatan surgawi yang sedang memanjakan si Joni, tempat dimana Indi gue eksekusi sungguh sempurna, berada jauh tersembunyi oleh bebatuan, air terjun pun ikut menghentakkan suara desahan dan rintihan 2 insan yang dimabuk nafsu birahi.

‘ahhh terus fer… Gue dikit lagi… ‘ ucap Indi yang akhirnya menuju puncaknya…
‘ahhhhhhhhhhhh’ teriak Indi begitu kencang membuat telinga gue berdengung menandakan ia mendapati puncaknya, sementara gue membenamkan si Joni dalam2 untuk merasakan empotan memek Indi yang bisa dibilang masih kurang kuat dibanding Tante sinta.

Indi memeluk gue begitu erat bahkan gue merasa perih dan panas pada punggung gue akibat kuku Indi yang menancap kuat Disana. Indi nggak gue beri kesempatan karena gue pun sudah sangat konak oleh permainan ini. Tubuhnya gue balik hingga ia berada diantara celah batu dan dari belakang gue menancapkan si Joni pada memek Indi dan kembali menggoyang tubuhnya.

‘ohh ndi… Memek loe enak banget’ ucap gue sembari maju mundur dibelakang Indi.
‘plak… Plakk… Plak..’ bunyi peraduan selangkangan gue dan bokong Indi ..
‘ohh Fer… Ihhh… Ssstt’ desah indi lagi…
‘ndi… Gue mau keluar nih..’ kata gue saat si Joni tak kuat lagi menahan caitannya.. melihat Indi yang hanya mendesah saja memberikan gue lampu hijau kedua untuk kembali menumpahkan Peju gue dalam memek wanita…

‘ohhh ndiii….. Ajjhhhhjh’ desah gue panjang…
‘crott… Crottt.. Crottt…’ Peju gue berhamburan keluar didalam.memek Indi…
‘ohh Fer..’ ucap Indi sambil memegangi memeknya dimana si Joni masih berada didalamnya, hingga akhirnya melemas perlahan, dan keluar bersamaan dengan cairan hasil tembakan maut gue. Ehh tembakan kehidupan maksudnya.

Cerita Pendek Dewasa | Perlahan tubuh gue menjauh dari tubuh indi, agar memberi kami ruang untuk bernapas dan memulihkan diri kami dari derasnya nafsu yang menderu, indi yang mendapat ruang kemudian membalikan badannya setelah itu ia berlutut didepan gue sambil mengenggam kontol lemas gue ia menjilat sisa peju pada joni yang sudah tak berdaya akibat mencapai puncak kenikmatannya.tangan gue membelai indi di bawah selangkangan gue.

‘doyan nyepong juga loe yah gue kira nggak ?’ ucap gue sedikit berteriak dan mengejeknya yang awalnya menolak menyepong kontol gue.
‘aduh sakit’ kata gue yang merasakan gigitan Indi pada si Joni, membalas ejekan gue padanya.

Gue dan Indi kemudian membereskan sisa permainan kami sebelum akhirnya berjalan pulang , ditengah perjalanan gue nggak bisa menahan rasa penasaran gue mengorek informasi tentang Indi yang selama ini hanya informasi umumnya saja.
(Mode teriak2 udah off)

‘ndi.. pacar loe sekarang siapa ?’ tanya gue.
‘napa loe tiba2 tanya pacar gw segala’ balas Indi yang bingung.
‘nggak, cuman nanya doang, habisnya selama ini anak2 pada tau kalau loe jomblo..’
‘kirain loe mau nembak gue ? Kasian kan si Wulan (pacar gue), yah gue emang jomblo’
‘nggak lah, lagian gue masih sayang sama wulan’
‘sayang, tapi main api , dasar cowok’
‘kan beda ndi, kalau sama Wulan kan main perasaan kalau sama loe dan Tante Sinta itu kan nafsu, btw beneran loe naksir gue ?’
‘yah terserah loe aja, ‘ katanya tak menjawab pertanyaan gue.
‘loh kok nggak dijawab’
‘kan tadi udah gue bilang’ ucap indi terlihat tersipu atas pertanyaan gue.
‘hehe, oh yah ndi jangan lupa yah diminum obatnya, loe hamil kan bisa bahaya’
‘ia.. cerewet deh’ ucapnya sembari tersenyum.
‘btw loe sama mama Sinta udah berapa kali gituan ?’ tanya Indi.
‘2 kali ndi…….’ jawab gue sambil bercerita secara gamblang dari awal sampai akhir ketahuan dia, tapi gue skip bagian dimana Tante Sinta meminta benih gue sebagai bonus untuknya.
‘ya ampun, tapi emang kasian juga mama sinta masih muda masih on2nya , liat loe gitu apa nggak naik birahinya’ ucap indi yang tampak mengerti perasaan ibu tirinya.
’emang loe nggak marah ndi, tau mama loe selingkuh’
‘marah ? Ngapain juga, gue emang nggak terlalu akrab sama dia tapi dia baik, lagian bukan mama kandung gue jadi terserah aja, masing2 kan punya privasi nya, cuman..’ ucap Indi yang punya idealis privasi.
‘Cuman apa’ tanya gue penasaran.
‘yah cuman gue keduluan aja’ kata Indi sembari tertawa.
‘haha.. lagian loe sih imagenya alim, kalau gue tahu loe doyan ML udah gue jabanin loe duluan, btw habis ini loe masih kan mau ML sama gue ?’
‘menurut loe ? Asal gue nggak jadi pelarian Loe aja dari wulan’
‘hahaha’ ucap gue tertawa sembari terus berjalan.

Tak terasa kami sudah tiba di rumah om Rizal yang masih sepi karena om Rizal belum pulang, sama seperti kedua anak om Rizal yang juga belum sampai.

‘ehh udah gimna, gw dah cari tapi nggak ada dimana2’
‘tenang re, yang ilang gue yang panik loe, udah ketemu kok tadi dekat air terjun nemunya lumayan susah juga karena mutar2 makanya pulangnya kelamaan’ ucap indi yang berbohong tentang durasi waktu yang sebenarnya dipakai bukan untuk mencari kalungnya melainkan memenuhi nafsu birahi kami berdua.
‘ow gitu, yaudah loe sih makanya lain kali itu jangan pelupa, teledor amat’ ucap Rere yang mulai cerewet.

Akhirnya hari itu kami lewati dengan damai dimana setelah berkenalan dengan anak2 om Rizal, kami makan bersama setelah itu kami beristirahat dari penatnya laporan yang masih maraton dikerjakan kami bertiga, gue sedikit membantu membuat laporan Indi dan Rere setelah mengadakan ‘perjanjian’ dengan Indi.

Keesokan harinya setelah sarapan pagi dan si kembar anak2 om Rizal pergi ke sekolah, om Rizal mengajak gue, Indi dan Rere untuk sekedar melihat keseharian dia sekalian rehat sejenak dari pekerjaan kami. Ternyata kami diajaknya kesebuah perkebunan yang adalah miliknya Disana kebetulan juga sedang panen buah jeruk, sehingga kami bisa mengetahui bagaimana proses panen, pendistribusian hingga tiba dan layak konsumsi, namun om Rizal tak mendetail menjelaskan pada kami yang ia tahu sedang berlibur dari penatnya tugas. Kami diajaknya memanen sambil menikmati buah jeruk yang manis itu, sembari om Rizal bercerita tentang kehidupannya dari jatuh bangun sampai bisa sukses, disela2 ceritanya ia sering bercanda sehingga suasana ngobrol kami lebih seperti nongkrong dengan teman2.

’emang om nggak kesepian gitu sendiri aja, nggak ada niatan cari istri lagi’ tanya Rere yang memang ceplas-ceplos itu.
‘haha.. nggak lagi, sekarang om lebih menikmati hidup ini, kalau dulu berusaha buat cari uang demi anak2 om bisa makan sekarang om sudah santai aja hasil sawah dan kebun sudah sangat cukup membiayai kami bahkan pekerja2 kami. Kalau ditambah dengan istri baru nanti repot minta ini dan itu apalagi nggak berjuang sejak awal, bisa2 uang aja yang diincar’ kata om Rizal begitu bijak akan prinsipnya.
‘ia juga sih om’ kata Rere menimpali.

Gue dalam hati hanya berdecak kagum walau sedikit memprotes prinsip om Rizal
‘kuat juga om Rizal, wah kalau gue diposisinya nggak kuat ahh.. punya uang, punya segalanya tapi si Joni nggak di Service, bisa karatan, mungkin dia lupa enaknya himpitan ‘sarang’ joni’ kata gue berbisik pada Indi saat kami sedang berjalan turun dari tempat kami beristirahat dan mengobrol dimana om Rizal dan Rere sedang didepan kami lumayan jauh untuk mendengar percakapan kami.
‘hush kamu yah’ ucap Indi mendengar ucapan gue, sembari mencubit, lengan gue. Emang nih anak sukanya nyubit2.
‘loh emang benar kan, liat nih si Joni belum sukses aja udah dapat ibu dan anaknya’ ucap gue membuat Indi tersipu.
‘ahh ndi nakal kamu yah’ erang gue sesaat setelah ucapan gue pada Indi membuat Indi bukan saja mencubit gue tapi tangannya meremas si Joni kuat. Gue membalas remasan Indi dengan meremas bokongnya sehingga Indi kembali mencubit gue.
‘hush udah ahh nangi diliatin’ katanya namun tak menepis remasan tangan gue,
‘habisnya loe duluan sih, nah tuh Joni bangunkan tanggung jawab loe, lemesinnya kan susah’ kata gue yang dibalas Indi kembali meremas Joni gue tapi kali ini tak dengan kuat namun seperti sedang merangsangnya.
‘sukurin, bye’
‘sialan’ ucap gue. Setelah Indi membangunkan si Joni kemudian berlari menuju Rere didepannya.

Wanita itu berhasil membuat gue mupeng ditengah jalan setapak menuruni perbukitan perkebunan, untungnya si Joni bisa di kondisikan dengan cara gue mulai berkonsentrasi melihat sisi kiri dan kanan kebun om Rizal, dan mulai menganalisa perkebunannya dengan ilmu yang gue pelajar di kampusi. Dan ini sedikit menurunkan birahi gue.

Kami berjalan menuju kesebuah rumah sederhana namun lengkap dengan kamar tidur dapur dan juga perabotan didalamnya, terlihat juga rumah itu terawat dengan baik. Rumah itu memang sengaja dibuat om Rizal saat ia berada di kebun buahnya ini mengingat perjalanan dari Rumah om Rizal yang dibawah ke kebun ini lumayan jauh dengan Medan yang kurang bagus apalagi menurut om Rizal kalau saat panen sulit meninggalkan kebun karena pasti ada aja masalah yang dihadapi dan akan capek kalau ia pulang pergi menuju tempat ini, sehingga ia membangun sebuah rumah kecil dekat perkebunan.

‘kalian istrahat aja disini, Sorean baru kita balik ke rumah aja, om masih ada yang mau di kerjakan’
‘wah nggak seru om, kita kan pengen liburan si Fery aja tuh yang ngeluh capek emang bukan anak kampung dia nggak kuat jalan2 di sini om, aku sama Rere ikut om aja biar si Fery disini’ kata Indi yang membuat gue kali ini kesal sama dia, biasanya yang buat kesal si Rere malah ini si Indi.
‘benar om, emang si Fery nggak cocok dia’ timpal Rere membuat gue semakin kesal.
‘halah..emang loe berdua aja yang pengen liburan terus’ kata gue melepas kekesalan gue.
’emang ngak apa2 fer kamu disini sendirian ? ‘ tanya om Rizal.
‘ngakk apa2 om lagian semalam begadang ngerjain tugas nih 2 orang udah dibantu malah ngejek’ kata gue melepas kepergian mereka bertiga yang terlihat pergi menjauh dari rumah kecil ini.

Akhirnya gue bisa istrahat juga setelah semalaman ngerjain laporan Indi dan Rere, kebetulan Disana ada 2 kamar tidur jadi gue pilih kamar yang kecil untuk melepas penatnya gue. Waktu itu jam menunjukan pukul 11 hingga gue terlelap hampir 2,5 jam. Hingga akhirnya gue dibangunkan oleh Suara ribut di ruang depan dimana ternyata indi dan rerelah yang membuat keributan.

“Ehh udah bangun fer, ini makanan loe’ kata indie menyerahkan sebungkus nasi kearah guem
‘om Rizal mana ? ‘ tanya gue.

Lalu mereka menjelaskan kalau om Rizal harus mengurus beberapa masalah sehingga mereka berdua di drop dulu disini karena nggak memungkinkan mereka untuk ikut.

‘yaudah kami istrahat dulu loe kan udah, nah sekarang jagain yah’ kata Rere sembari ia dan Indi menuju kamar besar yang tadi Disana emang tersedia kasur king size.
‘sialan gue ditinggal lagi’ kata gue dalam hati tapi terlihat senang ada makan siang didepan gue. Lalu gue menyantap makan siang yang sudah di berikan, setelah itu gue membuka tv menonton acara tv, tapi karena kurang seru gue akhirnya memutuskan untuk mendinginkan diri saja dengan mandi. Diakamr mandi yang biasanya gue beronani, kali ini gue nggak melakukannya.

‘biar aja Peju gue nggak mau gue buang sia2,’ ucap dalam hati.’

Lama gue mandi sembari bernyanyi dan berdengung Disana. Setelah mandi gue menuju kamar, ingin melanjutkan tidur gue. Tapi baru beberapa menit gue berbaring ponsel gue berbunyi dan tertera nomor baru Disana, karena merasa nggak kenal akhirnya gue reject, tapi kembali telpon itu berdering, hingga 3 kali gue reject dan akhirnya muncul SMS dari nomor yang sama.

‘Fery ini Tante Sinta diangkat telponnya dong’ bunyi SMS tersebut yang tak berapa lama muncul telpon darinya.

‘maaf Tante Fery nggak tahu nomor siapa baru soalnya makanya di reject’
‘ia, kamu simpan yah nomor Tante, eh btw kapan baliknya kalian’
‘paling besok sore tan’ ucap gue karena tadi sempat dibicarakan dengan Indi, karena terakhir om Rizal ingin mengajak kami jalan2 lagi.
‘wah lama juga yah bukannya 2 hari lagi kalian sudah pulang ke kota x’ tanya Tante Sinta.
‘ia Tante, sekalian puas2in disini, emang kenapa ? Tante udah kangen yah ?’ tanya gue menggodanya.
‘itu tahu, cepat2lah balik sini Tante kesepian nih rindu genjotan kamu’
‘ahh Tante bisa aja, Tante lagi dimana sekarang’
‘dirumah aja fer’
‘sendiri ?’
‘nggak ada Rudi tapi udah tidur emang kenapa fer ?’
‘tante tahu phone sex nggak ?’ tanya gue.
‘ha ? Apa itu ?’

Gue lalu menjelaskan pada Tante Sinta dan meminta dia menjauh mencari tempat aman setelah ia setuju melakukan phone sex. Setelah itu gue melakukan phone sex dengan Tante Sinta.
‘ohh Tante.. mhhh aku remas toketnya yah.. mhhh ssttt’
‘isap fer, ahhh’ desah Tante Sinta.
‘mhhh nikmat banget toket Tante Fery senang Tan, mhhh’
‘ohh Fer, kontol kamu besar banget Tante lagi kocok nih mhhh’
‘ohh Tan enak Tan terus Tan.. mhh nikmat, mhh memek Tante juga nikmat, Fery mainin dengan jari yah’ ucap gue dan Tante Sinta sambungan telepon sembari merangsang diri kami.
‘ohhh fer….mhhh ssttt’… Eh kamu kenapa fer’ desah Tante Sinta yang tiba-tiba berhenti setelah mendengar gue terkejut di balik hpnya.
‘ehh nggak kok Tante tadi ke asikan sampai jatuh’ ngeles gue, padahal yang sebenarnya terjadi adalah pintu kamar gue terbuka dan didepan berdiri sosok Indi yang memberikan kode dengan telunjuknya berdiri vertikal di depan bibirnya menandakan untuk gue nggak berisik.
‘ahh kamu bisa aja, mhh lanjut yah sini giliran Tante sepong kontol kamu’ kata Tante Sinta yang terdengar desahannya, dari suaranya terdengar ia seperti sedang mengulum sesuatu, entah jadi atau apalah itu yang tahu hanya Tante Sinta aja.
‘mama Sinta yah, wah kalian lagi telponan, mhh sampai bugil gini ‘ucap Indi yang kemudian masuk setelah mengunci pintu kamar.

Kemudian Indi dengan sigap menghampiri gue dan langsung menggenggam si joni.
‘di loudspeaker dong fer, pengen dengar’ kata Indi berbisik pada gue yang sedang tiduran.
‘mhh sttt ahh Fer,, nikmat banget kontolmu mhh slurpp slurpp slurpp’ terdengar fantasi Tante Sinta lewat hp gue.
‘owhh Tan enak banget hisapannya, mhhh sstt mhh’ kata gue sembari mengelus halus rambut Indi yang sudah melahap si Joni seperti fantasi Tante Sinta.
‘owhh sayang pelirnha dihisap juga’ kata gue yang bermaksud mengarahkan Indi.
‘ia sayang ini Tante isap zakarmu’ jawab Tante Sinta.
‘mhhh say enak Tan.. ohh buka bajunya yah’ kata gue.
‘mhh sayang ini Tante udah buka baju kok, malah udah bugil’ kata Tante Sinta bingung dengan permintaan gue yang sebenarnya di tujukan untuk indi’
‘hehe ia Tante maaf salah,’ kata gue yang diikuti tawa Indi yang untungnya tak didengar Tante Sinta.
‘yaudah Tan lanjutinya seponganya dong’ ucap gue yang diikuti Tante Sinta merintih, sembari Indi yang sudah membuka bajunya dan bra-nya hingga toples didepan gue
‘mhh fer, Tante apit yah kontol kamu dengan nenen tante, mau’ ngak’
‘ihh Tan.. mau Tan buat enak yah’ kata gue sembari berbisik ke telinga Indi.
‘ayo ndi ikutin fantasi mama Sinta, ‘ kata gue ,

Cerita Pendek Dewasa | Kemudian merubah posisi dari yang tadinya berbaring kini gue duduk dipinggir tempat tidur dengan kaki menjulang ke lantai sembari membuka selangkangan gue lebar-lebar sehingga tubuh Indi bisa masu, dada Indi mulai merapat dan berusaha memainkan mengapit kontol gue ditangannya lumayan sulit bagi Indi yang tak memiliki toket besar ia harus menekan kedua sisi toketnya untuk mengapit kontol gue.

‘haha.. susah yah beda onderdil sih, ‘ ucap gue mengejek Indi yang terlihat kesulitan mengapit kontol gue.
‘awww’ pekik gue.
‘kenapa fer’ tanya Tante Sinta.
‘nggak kok tan ini kegesek tangan tadi, terlalu semangat diapit toket besar Tante’ ucap gue berbohong padahal zakar gue si sentil Indi yang gue ejek tadi.sembari memberi kode minta maaf pada Indi.
‘wah fer dikasi pelumas dong, handbody gitu, nanti lecet loh, masih perih ?’
‘Ia tan, udah mendingan kok tan, Tante desah aja terus lama2 juga ilang perihnya’ kata gue pada Tante Sinta
‘mhhss sttt ahh fer… Nikmat… Mhhh sssttt ahhh’ desah Tante Sinta setelah permintaan gue. Sementara Indi berdiri membuka celana jeans panjangnya berserta celana dalamnya hingga ia bugil didepan gue.
‘fer giliran loe jilmek gue’ kata Indi berbisik. Kemudian ia berganti posisi dengan gue dimana ia duduk mengangkang dan gue berlutut didepannya.
‘tapi loe jangan berisik yah nanti ketahuan lagi’
‘ia fer’ ucap indi.
‘tan, feri pengen jilati memek Tante ‘ ucap gue di handphone
‘mhhh ia sayang, mhh tapi benar juga kamu nggak pernah jilati memek Tante loh fer ?’ ungkap Tante Sinta ke gue.
‘owh yah, mhh mungkin Fery kurang tertarik tan….’ ungkap gue yang belum habis bicara namun dipotongnya.
‘kurang tertarik apanya fer, sama tante’
‘bukan gitu tan kalau sama Tante tiap hari feri jabanin, tapi Fery pernah trauma jilmek cewek bulunya lebat Tante, soalnya hampir habis napas fery’ kata gue jujur dengan trauma gue.

Didepan gue Indi sepertinya sudah tak sabar karena gue belum menyentuhnya asik ngobrol dengan Tante Sinta, dari gerakan mulutnya yang tak bersuara ia seperti berkata.
‘fer. Cepetan’ gue akhirnya tersadar juga didepan gue ada wanita yang menunggu memeknya gue nikmati, namun gue nggak biasa mengabaikan wanita dibalik hp ini, sehingga gue mulai mengelus memek Indi dengan jemari gue menanggapi permintaan Indi.
‘ow gitu, yaudah nanti Tante cukur deh bulu Tante, tapi janji yah benar2 Tante di jilmek habis kamu pulang..’ pintanya.
‘ia Tante sayang Fery janji, sekarang Fery jilati jarak jauh aja yah’ kata gue kemudian mulai mengarahkan wajah gue ke memek Indi dan mulai menyapu memeknya dengan lidah gue sementara hp tetap gue letakan di kasur sebelah Indi.

‘ohh Tan Fery jilattin memek Tante, mhhh ssttt Fery masukin jarinya yah.. mhh sshh Fery hisap yah , Fery mainin clitoris Tante mhh sshh enak’ ucap gue memberi Tante Sinta rangsangan dari kejauhan dengan jaga2 gue sementara Indi mendapatkan realnya bukan saja kata-katanya.
‘ahhh mhh sssttt nikmat.. mhhh sshh’ desah kedua wanita ini yang gue buat keenakan.
‘fer… Kamu lagi sama siapa. Kok ada suara cewek’ Tante sinta mulai bertanya dan curiga setelah mendengar suara desahan cewek selain dirinya. Gue memberi tanda pada Indi untuk diam sejenak.
‘haa.. nggak kok tan ini laptop Tan, Fery nggak tahan makanya Fery buka film blue tan, lagian Fery lagi sendiri si Indi dan Rere lagi pergi sama om rizal’ kata gue mengeles dengan cepatnya, mungkin ini adalah keahlian gue yang terpendam.
‘ow gitu, yaudah terus fer Tante udah horny banget nih’ ucapnya meminta gue melanjutkan rangsangan gue, kemudian gue melanjutkan menjilati memek Indi sembari memberi rangsangan pada Tante Sinta, sementaea Indi sudah mengatup mulutnya agar tak lagi bersuara.
‘mhhsss ssshh aahhh’ desah Tante Sinta..
‘mhh slurpp.. clekkk.. clekkk.. clekkk. ‘ pintu peraduan memek Indi dan lidah gue.
‘ohh Fer, sauramu kayak benar2 lagi jilati memek Tante, mmhh terus sayang..’ ungkap Tante Sinta yang tak menyadari kalau gue memang lagi menikmati memek, yah memek Indi.

Gue melanjutkan permainan ini hingga akhirnya Tante Sinta tak kuat lagi menahan kenikmatan yang ia rangsang sendiri dibantu fantasi gue padanya,

‘fer.. tante. Mau keluar…. Mhhhhhhhh sssttt ahhhhh’ erangnya panjang mendapati orgasmenya, sementara itu sama seperti ibunya, Indi terlihat sedang bergairah bahkan desah yang sudah ditahannya lepas saat ibunya mengerang hebat dari loudspeaker yang menggelegar,
‘tante kenapa’ kata gue menanggapi Tante Sinta yang sehabis orgasmenya terlihat panik dengan suara tak jelas.
‘wadu sayang, Rudi bangun nih, mungkin kaget dengar suara Tante tadi, ini dia lagi ngetuk kamar kamu’
‘serius Tan, wah Tante kan belum aku entotin, Fery juga belum keluar nih’ ucap gue yang kecewa padahal ingin merasakan nikmatnya mengentot Indi dengan suara latar Tante Sinta. Sembari gue mengantikan pekerjaan mudah gue dengan jemari di memek Indi.

‘sory sayang maafin Tante, nanti aja kalau kamu pulang yah, Tante janji bakalan buat lemas kontol kamu berapa rondepun kamu minta, sekarang kamu simpan aja Peju kamu buat Tante nanti jangan dikeluarin yah’
‘yaudah benar yah…?’ kata gue memastikan.
‘benar sayang, owh yah tadi Tante pinjam kolor kamu Tante pakai masturbasi ini basah Tante pakai nampung cairan Tante’ ucapnya yang menggunakan dalaman gue sebagai fantasinya
‘nggak apa2 kok tan, kalau mau pakai aja sepuas Tante.’
‘makasih yah fer, rasa kangen Tante terobati, dah…’
‘tutt.. Tut..’

Akhirnya terputus juga sambungan telpon gue yang didengar semuanya oleh Indi.
‘fer, gue lagi dong nih udah dikit lagi’ ucap Indi meminta gue menyelesaikan permainan gue.

Dan akhirnya gue melanjutkan menjilati memeknha…hingga Indi mencapai puncaknya..ia mengerang namun tertahan kedua tangannya, kepala gue diapit ya sementara cairannya membasahi bibir gue yang dengan lahap gue nikmati.
‘mmmppppphhhttt’ erang Indi tertahan bantal yang ia pakai menahan suaranya. Indi menikmati sisa orgasmenya dengan wajah puas.

‘gimana fer, mau entotin Tante indi nggak terserah kamu deh, yang penting Peju kamu buat Tante sekarang’ kata Indi mengejek gue dengan leluconnya.
‘ahh becanda aja loe ndi, mhh loe sepongin gue aja, kayaknya nikmat juga sepongan loe, kemarin udah janji juga kan lagian gue udah ngentotin loe kemarin’
‘yaudah deh, loe baring tapi low jilmek gue lagi yah, enak banget soalnya gue ketagihan nih’
‘yaudah tapi nanti gue keluar dimulut loe yah , ingat kata tante sinta jangan buang-buang peju’ mengoda indi yang disetujuinya.

Cerita Pendek Dewasa | Indi dengan semangatnya beraksi diatas tubuh gue dimana gay 69 yang kami pakai sembari indi melahap kontol gue, gue kembali melahap memeknya yang gue buat basah lagi denan aksi lidah gue. kalau boleh jujur sepongan indi ini terbaik, ia sangat menikmati kontol gue dimana seluruh permukaan kontol gue dijilatinya, bahkan gue nggak merasakan terkena gigi si indi ini dikombnasikan dengan permainan tangannya yang menggenggam dan mengocok si joni, pelir gue bahkan tak luput dari kulumannya.

‘mhh ndi, enak banget ndi terus sedott..’ kata gue saat pipi indi kembang kempis menghisap kontol gue.
‘mhh ayo ndii dikit lagi gue keluar’ ucap gue saat puncak sudah terlihat didepan mata.
‘slurpp.. slurrpp.. slurpp’ bunyi di kontol gue.
‘mhhh ndii.. gue keluar nih… mmhhh ssshhh aaahhhhhh’ erang gue saat mendapatkan ejakulasi yang tertumpuk di mulut indi.
‘hhmmmppttttt’ gue sedikit bisa mengontrol erangan gue mengingat dikamar sebelah ada rere yang bisa bahaya kalau sampai terbangun. bibir gue berpangutan dengan memek indi untuk meredam erangan gue sembari lidah gue tetap menjulur kedalam lubang kenikmatannya.
‘crottt…crottt..crottt’ peju gue menembak dalam mulut indi yang sesuai kesepakantan kami, indi dengan lahapnya menelan peju gue disana bahkan sampai akhirnya sijoni lemas indi masih menjiati sisa peju yang tadinya keluar dari bibir indi akibat tak sanggup menampungnya.

indi sendiri mulai mengoyangkan pinggulnya seperti menggesek wajah gue saat gue sudah pasif akibat menikmati sisa orgasme gue. sadar akan permintaan indi gue lalu kembali menjiati memeknya kali ini gue bantu dengan jemari gue yang memainkan klitorisnya sembari lidah gue menjilati sekitar bibir memeknya dan jemari tangan satunya menusuk masuk keluar. indi sepertinya juga sudah sangat birahi denganpermainan gue ini.

‘ohh fer loe apain memek gue fer enak banget mhhh sshshh mmhpp’ katanya merasakan permainan gue
‘ohh ferr.. gue mau keluar nihh..’ kata indi yang tak berapa lama kemudian tubuhnya menegang kali ini ia menekan habis bokongnya kewajah gue sementara tubuhnya melengkung dengan kedua tangannya menoang pada kasur.

‘ahhhhhhhhh’ desahnya. bergetar dengan liarnya diatas wajah gue.
‘crott..crottt..crott’ air cinta indi yang hangat itu berlomba keluar membasahi memknya yang sudha bercampur liur gue dan itu membut wajah gue basah olehnya. untungnya gue masih bisa bernapas disini kalau nggak.. ah sudahlah..

indi gue biarkan menikmati sisa orgasmenya sebelum akhirnya ia bangun terlihat lemas tidur disamping gue sambil memeluk gue.

‘fer, loe apain sih memek gue tadi bisa enak gitu, emang bibir loe jago banget’ katanya kemudian mencium gue.

Ada sekitar 20 menitan gue disana bersama indi masih tidur berpelukan di kasur, untung saja gue masih bisa menahan pikiran gue karena si joni ternyata sudah kalah ia kembali menegang melihat wanita bugil disampingna, karena situasi dan keadaan indi yang katanya capek kami nggak jadi masuk ronde berikutnya, hanya berbaring sambil membahas ‘sesuatu’ yang…… (Bersambung)

Cukup sekian dulu untuk bagian II ini. Nantikan lanjutan dari cerita pendek dewasa ini pada sesi berikutnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*